Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”
(Amsal 23:7a)
Beritaoikoumene.com – Jakarta, Sifat Asli Seseorang Akan Terlihat Saat Ia Tidak Mendapatkan Apa yang Ia Suka. Ketika keinginan terpenuhi, hampir semua orang bisa tampak baik, sabar, dan ramah. Namun saat harapan runtuh, rencana gagal, atau doa belum terjawab, tabir hati mulai tersingkap. Di situlah karakter sejati berbicara – bukan lewat kata, melainkan lewat sikap, respons, dan pilihan yang diambil. Kekecewaan bukan musuh, melainkan cermin yang jujur untuk mengenal diri dan bertumbuh. Bagaimana hal ini terlihat di ruang siber (Era Digital)?
Di era digital, keinginan sering terasa lebih dekat dari sebelumnya. Dengan satu sentuhan layar, manusia dapat memesan, mengunggah, mengomentari, bahkan menuntut perhatian. Media sosial, algoritma, dan budaya instan membentuk ilusi bahwa apa yang diinginkan seharusnya segera terpenuhi. Namun justru ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan – ketika unggahan sepi respons, doa tak kunjung terjawab, rencana digital gagal – tabir hati manusia tersingkap.
Peradaban siber mempercepat banyak hal, tetapi tidak dapat mempercepat pembentukan karakter. Di titik inilah iman dan kedewasaan rohani diuji.
Kekecewaan Digital sebagai Cermin Karakter
Ketika keinginan terpenuhi, hampir semua orang tampak baik. Namun ketika algoritma “tidak ramah”, proyek daring tidak diapresiasi, atau ekspektasi publik runtuh, karakter sejati muncul – bukan lewat unggahan rohani, melainkan lewat respons nyata.
Kekecewaan bukan musuh iman, melainkan cermin yang jujur. Ia memperlihatkan apakah seseorang hidup digerakkan oleh nilai atau oleh validasi.
1. Respons terhadap Kekecewaan: Antara Reaksi dan Kedewasaan
Di ruang digital, reaksi sering lebih cepat daripada refleksi. Komentar impulsif, unggahan emosional, atau serangan verbal kerap menjadi pelampiasan kekecewaan. Padahal kedewasaan rohani justru tampak ketika seseorang menunda reaksi dan memilih respons.
Orang yang matang tidak menyangkal rasa sakitnya, tetapi mengelolanya. Ia tidak menjadikan media sosial sebagai tempat membuang luka, melainkan ruang untuk bersikap bertanggung jawab.
2. Cara Berbicara di Dunia Siber Mengungkap Kualitas Hati
Dalam tekanan, kata-kata menjadi indikator batin. Dunia digital memperbesar dampak kata – satu kalimat dapat menjangkau ribuan orang, melukai banyak hati, atau sebaliknya, menyembuhkan.
Hati yang terlatih secara rohani memahami bahwa kejujuran tidak harus kasar, dan kritik tidak harus merendahkan. Ia memilih empati daripada sarkasme, karena sadar bahwa kata-kata di dunia siber meninggalkan jejak yang panjang.
3. Sikap Saat Tidak Diuntungkan: Empati di Tengah Kompetisi Digital
Peradaban digital adalah ruang kompetitif: likes, views, dan engagement sering menjadi ukuran nilai diri. Ketika tidak diuntungkan, ada yang menyalahkan sistem, ada yang menyerang sesama.
Namun empati sejati muncul ketika seseorang tetap menghormati orang lain meski merasa dirugikan. Ia sadar bahwa di balik setiap akun ada manusia dengan pergumulannya sendiri. Sikap ini menandai iman yang telah melampaui ego digital.
4. Penundaan sebagai Latihan Kesabaran di Era Serba Instan
Budaya digital mengajarkan kecepatan, tetapi iman dibentuk oleh proses. Penundaan – baik dalam pelayanan, karya, maupun doa – menjadi latihan kesabaran yang mahal.
Pribadi yang kuat tidak memaksa waktu, tetapi setia mengerjakan tanggung jawab hari ini. Ia percaya bahwa Tuhan bekerja bukan hanya melalui hasil instan, tetapi melalui proses yang membentuk kapasitas batin.
5. Kejujuran Saat Gagal: Integritas di Tengah Sorotan Publik
Kegagalan di era digital sering terasa lebih menyakitkan karena disaksikan banyak orang. Godaan untuk menutupinya, memanipulasi narasi, atau menyalahkan pihak lain sangat besar.
Namun integritas justru tampak ketika seseorang berani mengakui kegagalan, belajar darinya, dan memperbaiki arah. Kejujuran membangun kepercayaan – mata uang paling berharga di dunia digital yang rapuh oleh kepalsuan.
6. Kesetiaan pada Nilai di Tengah Godaan Jalan Pintas
Ketika keinginan tidak terpenuhi, jalan pintas tampak menggoda: manipulasi data, pencitraan palsu, atau kompromi etis demi hasil cepat. Di sinilah komitmen iman diuji.
Orang yang berkarakter memilih benar meski tidak populer, karena ia memahami bahwa karakter lebih bernilai daripada viralitas sesaat.
7. Bersyukur di Tengah Kekurangan: Iman yang Tidak Bergantung Algoritma
Syukur bukan menutup mata dari kesulitan, melainkan menemukan makna di dalamnya. Di dunia digital yang mudah membandingkan, sikap bersyukur menjadi tindakan iman yang radikal.
Orang yang bersyukur tidak menggantungkan identitasnya pada angka atau pengakuan publik. Ia percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan melalui hal-hal yang tidak ia sukai untuk kebaikan yang lebih besar.
Penutup: Ketika Tidak Mendapatkan, Justru Dibentuk
Tidak mendapatkan apa yang kita inginkan memang menyakitkan. Namun justru di sanalah iman diperdalam dan karakter dimurnikan. Kekecewaan mengajar kita mengenal diri, menata hati, dan memilih respons yang selaras dengan kasih.
Di tengah peradaban digital yang serba cepat dan reaktif, orang beriman dipanggil untuk menjadi pribadi yang reflektif, bertanggung jawab, dan setia pada nilai. Ketika respons kita selaras dengan iman, kegagalan pun menjadi guru yang setia – membentuk karakter yang kokoh dan tujuan yang murni.
Karena seperti kata Kitab Suci, cara kita berpikir di dalam hati itulah diri kita yang sesungguhnya – baik di dunia nyata maupun di ruang siber. (@Mas Dharma EL./Red.***)
